Filsafat Sebagai Suatu Cara Untuk Menemukan

Ditulis oleh Dewi Krisdiyanti
NPM 15120285


Selasa, 27 November 2018 di kelas 7A berpendapat bahwa, filsafat merupakan suatu cara untuk menemukan bukan dasar untuk berpikir. Nafsu itu memiliki beberapa tingkatan. Misalnya saat kita sudah memiliki handphone dengan sebelum memiliki handphone akan lebih tenang mana? Tentunya sebelum memiliki handphone. Hal ini dikarenakan sebelum memiliki handphone kita akan slalu merasa tenang karena tidak ada yang menggangu dan tidak dihantui oleh masalah-masalah lain. Misalnya saat sekarang ini terdapat berbagai fitur media sosial yang terkadang membuat kita sebagai generasi yang harus mengikuti perkembangan jaman harus mampu beradaptasi dengan hal tersebut sehingga memang terdapat banyak kelebihan dan keuntungan dari hal tersebut, namun tentunya juga ada dampak negative yaitu terkadang kita merasa selalu merasa was-was dan dihantui oleh informasi-iformasi yang mungkin saja penting yang ada di sebuah grup media sosial yang kita ikuti seperti whattapp dan sebagainya padahal terkadang juga terdapat beberapa informasi tidak penting namun selalu masuk dalam grup tersebut sehingga kita terkadang juga mengabaikan pesan yang masuk atau cenderung meninggalkan grup tersebut karena terlalu sering adanya pesan yang tidak penting. Selain itu juga, sebelum maraknya teknologi “handphone” ini kita akan dapat lebih dekat dengan orang lain. Misalnya seperti yang disampaikan oleh Bapak Aniq, ketika orang jaman dulu hendak berkunjung ke rumah orang lain tidak perlu menghubungi atau menelpon terlebih dahulu namun mereka langsung pergi menuju tempat tujuan. Meskipun mereka tidak tahu apakah orang yang ingin ditemui ada di rumah atau tidak. Dan ketika sampai di tujuan apabila tidak ada pemilik rumah maka tamu akan bertanya pada tetangga. Dan hal tersebut tentunya akan menjalin sebuah ikatan antara ketiganya yaitu tamu, tetangga serta orang yang ingin dikunjungi. Selain itu menjalin ikatan dengan tetangga juga perlu karena tetangga adalah saudara terdekat kita dan sewaktu-waktu mereka akan menjadi penjaga atau bisa menjadi “cctv” rumah kita ketika kita sedang pergi jadi kita harus bersikap baik pada tetangga.Selain itu juga Bapak Aniq mengemukakan bahwa manusia itu sebagai penciptaan awal, yang secara naluri tidak akan bisa menolak sebagai manusia antropologis. Misalnya kita terlahir di Jawa dan kita ingin seperti idol k-pop atau mengaku menyukai k-pop dan artis luar negeri lainnya meskipun kita akan berdandan atau bergaya seperti mereka namun hati tidak akan bisa dibohongi, meskipun kita akan bilang “Oppa itu keren” atau mungkin teman kita menikah dengan orang luar negeri kita akan berkata “kamu sangat beruntung mendapatkan bule!” namun hati tidak akan bisa berbohong. Namun kita berkata seperti itu hanya ingin dibilang keren karena memiliki selera orang luar padahal kita sama sekali tidak suka namun karena ingin dibilang dan dicap sebagai anak kekinian atau anak gaul terkadang kita membelakangi apa yang ada di hati. Hal tersebut berarti bahwa manusia itu sebagai penciptaan awal, yang secara naluri tidak akan bisa menolak sebagai manusia antropologis. Penciptaan awal tidak hanya dipandang secara fisik namun juga dipandang secara psikis, mental serta kewarasan. Seperti Albert Einstein yang pernah dianggap gila dan tidak waras namun malah menjadi seorang ahli. Adapun juga sebaliknya yaitu para koruptor.

Comments

Popular posts from this blog